Entri Populer

Kamis, 06 September 2012

My First FF [Chapter 2]


Chapter 2

Shana’s POV

Aku masih merasa tidak enak. Aku yakin sekali, tadi ada suara tawa. Bahkan sekarang, aku merasa diikuti, tapi setiap aku menoleh kebelakang, selalu saja tak ada orang. Begitu juga sekarang, aku tetap merasa diikuti. Aku melirik kebelakang, semua murid sedang menunduk ke soal yang tadi diberikan oleh Yuri, guru di “Kotena”-no gakko yang mengikat kontrak dan menjadi ‘wadah’ bagi Dewa Senjata. Aku mencoba menjawab soal-soal tadi. Tapi, tak lama aku melirik kebelakang lagi dan keadaan kelas masih sama seperti tadi. Cih! Aku seperti orang gila! Umpatku dalam hati.

“Sedang apa kau, Shana?” Tanya Yuri yang entah sejak kapan ada didepanku.

“Eehh..? e.. eto..-“

“Dan kenapa kau tidak mengerjakan soal ini?! Ini kan mudah! Ralat, sangat mudah!!” Potong Yuri.

“..a.. anu.. eto..“

“Pokoknya, kau harus lebih giat lagi!!” Kata Yuri lagi.

“..h-haik.. gomennasai..” Jawabku gugup. Tawa teman-teman sekelasku meledak. Yaahh.. ini bisa dibilang ‘kejadian langka’ karena baru kali ini aku mau mengakui kesalahanku didepan umum.

Saat Istirahat..

“SIAL!!” Umpatku sambil menendang tembok di toilet sekolah.

“Cih!! Gara-gara tadi, aku terpaksa bilang ‘maaf’.. Argh!! Akan kubuat orang itu menyesal!!” Aku masih terus mengeluarkan sumpah serapahku. Tapi, setelah kupikir-pikir, sepertinya tak ada gunanya aku melakukan itu. Lebih baik aku keluar dari sini dan membeli roti melon kesukaanku. Kuturuti pemikiranku itu. Tapi, baru saja aku sampai ke kantin. Tiba-tiba aku mendengar sesuatu.

“Khu.. khu.. khu.. aku selalu memperhatikanmu, Shana..” Kata seseorang. Buru-buru aku menoleh kebelakang. Tak ada yang mencurigakan. Tapi, aku sangat yakin aku mendengar sesuatu. Aku berbalik dan berlari. Dia disini! Dia pasti salah satu murid di “Kotena”-no gakko ini! Tapi, siapa? Pertanyaan itu terus membanjiri otakku. Aku terus berlari. Hingga..

BRUK!!

Aku menabrak seseorang.

“Aduuhh..” Keluhku.

“Ah! Shana-san?!” Tanya Yui tak percaya.

“Kau nggak apa-apa?” Tanya Yui sambil mengulurkan tangannya.

“..tidak apa-apa..” Jawabku sambil memalingkan wajah. Yui menatapku heran.

Yui’s POV

“..tidak apa-apa..” Jawab Shana sambil memalingkan wajahnya. Aku menatap Shana heran. Ada apa dengan Shana-san? Biasanya dia akan mengeluarkan sumpah serapahnya.

“ng.. Shana-san, apa kau lagi nggak enak badan?” Tanyaku.

“Nggak kok! Sudahlah, aku mau ke kelas!” Shana berdiri dan berjalan ke kelas. Aku menatapnya heran. Apa yang terjadi dengan Shana-san? Tanyaku dalam hati. Ah, sudahlah.. lebih baik aku ke ruang musik dulu.. kataku dalam hati sambil berjalan ke ruang musik. Begitu sampai di ruang musik, aku mengambil gitarku listrikku dan mencobanya. Tapi, meskipun musik yang kumainkan mengeluarkan suara yang merdu, tapi suara hatiku malah mengeluarkan suara yang murung. Aku merasa ada yang aneh pada Shana-san.. apa yang terjadi padanya? Aku tidak begitu tahu tentangnya karena aku baru masuk ke “Kotena”-no gakko 2 tahun yang lalu, sementara Shana-san sudah masuk ke “Kotena”-no gakko sejak 4 tahun yang lalu.. dia sudah lebih berpengalaman di “Kotena”-no gakko.. aku terdiam.

“Ah, jadi kau yang memainkan musik itu..?” Tanya seseorang diambang pintu. Aku menoleh dan melihat Mio-senpai disana.

“Ah.. Mio-senpai.. apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku.

“Aku mendengar musik yang kau mainkan tadi, jadi aku kemari..” Jawab Mio sambil duduk dikursi yang ada disana.

“Tadi, itu musik yang bagus..” Puji Mio sambil tersenyum.

“ah.. arigatou..” kataku sambil menunduk.

“..tapi, musik yang tadi tidak seindah yang musik yang didalam hatimu..” Kata Mio lagi.

Aku mengangkat wajahku. Mio menatapku.

“Musik yang ada didalam hatimu itu terdengar sedang bingung..” Lanjut Mio.

“Mio-senpai menyadarinya ya..?” Tanyaku sambil menunduk.

“Tentu saja aku menyadarinya.. aku dan kau kan punya kekuatan untuk melihat musik yang ada didalam hati seseorang..” Jawab Mio.

“..s-souka..” Responku.

“..Yui, apa yang kau pikirkan?” Tanya Mio. Aku terdiam.

“Kau tidak biasanya berpikir serius sampai seperti ini..” Kata Mio lagi.

“..ng.. Senpai.. aku boleh tanya sesuatu..?” Tanyaku gugup.

“Apa?” Tanya Mio.

“..ng.. Senpai dan Shana-san kan masuk ke “Kotena”-no gakko pada tahun yang sama.. aku mau tanya.. apa yang terjadi dengan Shana-san selama ada di “Kotena”-no gakko sebelum aku masuk kemari?” Tanyaku polos. Mata Mio terbelalak. Mio menatapku gugup.

Mio’s POV

Aku menatap Yui gugup. Yui menatapku dengan pandangan bertanya. Apa kuberitahu saja kejadian waktu itu? Tapi, Shana sendiri bilang, itu tidak boleh diberitahu pada siapapun! Lagipula, para guru sendiri juga bilang kalau kejadian itu harus dirahasiakan! Tapi, kalau dirahasiakan, suatu saat pasti akan ketahuan! Aku menunduk. Berpikir apa yang sebaiknya kulakukan.

“..ng.. Mio-senpai..?” Yui membuyarkan lamunanku.

“..i..iya..?” Tanyaku gugup.

“..ng.. apa.. aku.. tidak boleh mengetahui apa yang terjadi..?” Tanya Yui sedikit kecewa. Aku menatap Yui. Sepertinya tidak apa-apa kuberitahu padanya.

“..kalau-“

“T-tidak Yui.. aku hanya.. bingung harus memulai darimana.. tenang saja.. akan kuberitahu padamu..” Kataku menenangkannya.

“..tapi, kau tidak boleh mengatakannya pada siapapun!” Kataku lagi.

“Baik!” Jawab Yui. Aku menunduk.

“..ng.. sebenarnya..-“

“Mio!!” Sebuah suara memanggilku. Aku dan Yui menoleh kearah pintu dan menemukan Shana sedang berdiri menatapku tajam. Wajahku pucat, sementara Yui salah tingkah.

“..a-ada apa, Shana?” Tanyaku mencoba mengganti suasana.

“Kau dipanggil Yuri..” Jawab Shana menatapku tajam.

“..Sekarang!!” Tambah Shana dengan menekankan kata-katanya. Aku tahu. Dia pasti marah padaku yang hamper mengatakan salah satu dari masa lalunya. Aku bangkit dan berjalan kearah pintu. Sebelum aku berjalan melewati Shana, Shana membisikkan sesuatu padaku.

“Kau tidak boleh mengulanginya lagi!!” Bisik Shana dengan tetap menekankan setiap kata-katanya. Aku menelan ludah. Shana menatapku tajam. Aku menghindari tatapannya dan berlari kearah ruang guru. Yui melihatku sedikit kecewa.

Yui’s POV

Aku melihat kepergian Mio dengan sedikit kecewa. Aku tahu, pasti Shana-san akan memaki-makiku karena berusaha mengorek masa lalunya, tapi aku sangat ingin tahu.. Shana membalikkan badannya dan menatapku tajam. Aku menelan ludah. Tatapan Shana-san sedikit seram dari biasanya.

“..sebentar lagi masuk, ayo ke kelas..!” Kata Shana sambil berjalan kearah kelas. Aku menatapnya sedikit heran. Tumben dia buru-buru mau masuk kelas.. pelajaran berikutnya kan Matematika dan dia benci pelajaran itu.. tapi, aku menurutinya dan menyusulnya ke kelas.

XXX’s POV

“Tuan, apa kau yakin akan melakukan itu?” Tanya seorang ‘shadows’.

“Tentu saja.. lagipula, ini sudah direncanakan dengan baik..” Jawab seseorang yang dipanggil ‘Tuan’ itu dengan percaya diri.

“..atau.. kalian tidak percaya padaku..?” Tanya orang itu lagi.

“Tentu saja tidak, Tuan..” Jawab ‘shadows’ itu.

“Kalau begitu.. bagaimana kita jalankan rencana ini minggu besok?” Tanya orang itu sambil tersenyum.

“Baik!” Jawab para ‘shadows’ yang berkumpul disitu.

“Ingat, jalankan rencana ini dengan sebaik-baiknya..!!” Peringat orang itu sambil menatap para ‘shadows’ itu tajam.

“Yes, My Lord!!” Jawab para ‘shadows’ itu sambil membungkuk.

[(Author : Pada ngikutin Sebastian nih!!*plak!! XD)]

Mata orang itu menyala di kegelapan dan orang itu tersenyum keji.

-TBC-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar